29 Ags 2025 | Dilihat: 189 Kali

Affan Kurniawan: Rakyat Kecil Mati Dilindas Negara

noeh21
Prosesi pemakaman Affan Kurniawan, driver Ojol yang tewas usai dilindas kendaraan taktis Brimob.
      

MajalahDCN.com | Jakarta - Nama itu Affan Kurniawan (21). Ia bukan pejabat, bukan tokoh politik, bukan wajah yang terpampang di baliho. Affan hanyalah seorang pengemudi ojek online—rakyat kecil yang menghabiskan hidupnya di jalan, berpacu dengan panas dan hujan demi sesuap nasi untuk keluarganya.

Namun pada Kamis malam, 28 Agustus 2025, tubuhnya remuk dilindas kendaraan taktis Brimob di Pejompongan. Affan terkapar di jalan, pergi selamanya tanpa sirine pengawal, tanpa karangan bunga pejabat. Hanya kabar buruk yang mengetuk pintu rumah: Affan tidak akan pernah pulang lagi.

Polisi memang cepat mengumumkan tujuh anggotanya diamankan. Tapi publik tahu, persoalan ini lebih dalam dari sekadar angka. Masalahnya bukan hanya di rantis yang menabrak, melainkan pada kenyataan getir: seorang rakyat kecil bisa mati begitu saja di bawah ban negara.

Profil Affan Kurniawan

Affan Kurniawan lahir di Bandar Lampung, 18 Juli 2004. Ia tinggal bersama keluarganya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Di usianya yang baru 21 tahun, Affan sudah menjadi tulang punggung bagi tujuh anggota keluarga. Ayahnya bekerja serabutan, sehingga Affan memilih menjadi pengemudi ojek online setelah sebelumnya sempat bekerja sebagai satpam.

Semasa hidupnya, Affan dikenal sebagai sosok rajin, pekerja keras, dan penuh tanggung jawab. Sejak pagi ia sudah berangkat mencari nafkah, lalu pulang sejenak untuk beristirahat sebelum kembali bekerja.

Bagi keluarganya, Affan bukan sekadar anak, melainkan sandaran utama ekonomi keluarga. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam sekaligus mengingatkan banyak orang akan kerasnya perjuangan hidup anak muda di jalanan.

Rakyat Berduka, Elite Berpesta

Kematian Affan terjadi di tengah kontras yang menyakitkan. Beberapa hari sebelumnya, layar televisi menayangkan pejabat tersenyum menerima tanda jasa di Istana. Di parlemen, para wakil rakyat berjoget riang, seakan ruang sidang hanyalah panggung hiburan. Di media sosial, pejabat melontarkan kata-kata kasar kepada warga yang kritis.

Potongan peristiwa itu berkumpul dalam benak rakyat, membentuk gambaran jelas: negara sibuk dengan seremoni dan pesta kecilnya, sementara rakyat bergulat sendirian dengan hidup yang makin berat. Dan di situlah Affan mati.

Dari Bouazizi, George Floyd, hingga Trisakti

Sejarah kerap berbalik bukan karena orator besar, melainkan karena rakyat kecil yang jatuh dengan cara tragis. Di Tunisia, pedagang buah Mohamed Bouazizi membakar diri setelah dipermalukan aparatnyawa kecil itu memicu Arab Spring. Di Amerika Serikat, George Floyd mati dengan jeritan I can’t breathe, yang menggema ke seluruh dunia. Di Indonesia, mahasiswa Trisakti yang tewas pada Mei 1998 menjadi martir tumbangnya Orde Baru.

Kini, Affan Kurniawan berpotensi menempati tempat yang sama: rakyat jelata yang mati bukan karena salahnya, melainkan karena negara gagal melindungi warganya.

Negara Kehilangan Rasa

Tragedi Affan bukan kasus tunggal. Ia bagian dari pola lama: aparat yang melihat demonstrasi sebagai ancaman, bukan hak warga; Polri yang lebih cepat mengerahkan tameng dan rantis daripada membuka ruang dialog. Jargon Presisi dan janji reformasi Polri runtuh seketika ketika bersentuhan dengan realitas lapangan.

Yang lebih menyakitkan rakyat bukan hanya kematian Affan, melainkan dinginnya sikap negara. Rakyat berduka, elite bergembira. Rakyat kehilangan martabat, pejabat menerima tanda jasa. Rakyat kehilangan nyawa, parlemen berjoget dan antikritik. Kontras itu adalah penghinaan yang lebih pahit daripada tragedi itu sendiri.

Alarm Bagi Bangsa

Kematian Affan bisa menjadi triggering event—peristiwa pemicu yang menyatukan beragam kemarahan rakyat. Survei sudah menunjukkan kepercayaan publik terhadap kepolisian rapuh. Jika tragedi ini tak ditangani serius, ia bisa jadi palu terakhir yang meruntuhkan legitimasi.

Negara masih punya pilihan, tapi waktu tidak banyak. Investigasi harus transparan, melibatkan lembaga independen, bukan sekadar mekanisme internal. Protokol pengamanan demonstrasi perlu direvisi, meninggalkan paradigma militeristik. Dan para elite harus berhenti berjoget di atas penderitaan rakyat, belajar kembali tentang empati dan keadaban dasar.

Nama yang Tak Boleh Hilang

Kini Affan sudah tiada. Tubuhnya dikubur, motornya tinggal barang bukti. Tapi namanya akan terus bergema. Ia bukan sekadar “korban insiden Pejompongan,” melainkan simbol bangsa yang sedang kehilangan arah.

Sejarah selalu memberi pilihan: apakah kita hanya mencatat Affan sebagai angka, atau mengingatnya sebagai martir yang memaksa negara berbenah?

Karena jika negara terus menutup mata, yang mati bukan hanya Affan, melainkan juga kepercayaan rakyat. Dan ketika kepercayaan itu mati, tak ada rezim yang mampu bertahan.

Affan Kurniawan sudah pergi. Tetapi pertanyaan yang ditinggalkannya akan terus menghantui: berapa banyak lagi rakyat kecil harus dilindas, sebelum negara benar-benar belajar mencintai rakyatnya sendiri? (Nuli)

Sentuh gambar untuk melihat lebih jelas