28 Apr 2025 | Dilihat: 774 Kali

Peringatan Hari Bumi 2025 di Megamendung: Dialog Inspiratif Merajut Komitmen Bersama untuk Kelestarian Alam

noeh21
      
Majalahdcn.com – Megamendung || Setelah rangkaian seremoni peringatan Hari Bumi 2025 dan kegiatan penanaman pohon untuk menandai terpenuhinya komitmen menanam 10.000 pohon, dilanjutkan pula dengan penanaman bambu sebagai simbol komitmen permanen dan estafet konservasi di kawasan hulu Megamendung. Mengambil momentum berkumpulnya para tokoh penting, dilaksanakan sebuah Dialog Interaktif bertajuk " Merajut Komitmen Bersama untuk Kelestarian Alam " pada Sabtu, 26 April 2025, pukul 13.30–15.30 WIB, bertempat di Kawasan Aristamontana, Megamendung, Kabupaten Bogor.

Dialog ini dimoderatori oleh Wahdi Azmi, Ketua Yayasan Paseban, dan menghadirkan narasumber utama:
  • Andy Utama (Pendiri dan Pembina Yayasan Paseban dan Aristamontana)
  • Dr. Wiratno (Penasehat Yayasan Paseban dan tokoh konservasi nasional)
  • Administratur Perum Perhutani KPH Bogor
  • Perwakilan BPDAS Citarum-Ciliwung
  • Camat Megamendung Ridwan S.Sos
  • Lurah Megamendung
  • Kang Dody (Tokoh budaya dan pelopor gerakan hidup berkesadaran)

Dalam sesi dialog, Andy Utama membagikan landasan filosofis yang menjadi motivasi selama 14 tahun berkegiatan konservasi di Megamendung: kesadaran akan apa yang telah alam berikan kepada manusia, seperti udara bersih tanpa bayaran. Ia mengajak semua pihak untuk bertanya kepada diri sendiri, "Seberapa banyak yang sudah kita lakukan untuk alam?"

Andy menekankan perlunya aksi sederhana seperti mengelola sampah pribadi, menanam pohon di lingkungan masing-masing, serta menyerukan pentingnya konsistensi kebijakan tata ruang agar upaya konservasi tidak sia-sia. Ia berharap kerjasama dengan Perhutani dapat diperluas untuk kegiatan non-komersial berbasis konservasi. Selanjutnya Andy juga berharap agar pemerintah desa dapat mendukung dengan menyiapkan peraturan desa untuk melakukan pelarangan berburu satwa setidaknya di wilayah administrasi desa Paseban. Aristamontana sedang melakukan kegiatan penangkaran burung non komersil yang bertujuan untuk mengembalikanya ke alam liar. Dengan adanya peraturan desa tersebut maka kegiatan pelepasliaran burung akan dimungkinkan.




Dr. Wiratno menyoroti potensi besar kawasan Megamendung dalam bidang bioprospecting, seperti pemanfaatan jamur dan bunga liar sebagai bahan parfum eksklusif. Kawasan ini juga menjadi refuge penting bagi satwa liar dari luar kawasan konservasi formal.

Ia mengajak generasi muda untuk belajar dari para pelaku konservasi senior dan mendorong agar kawasan Megamendung diusulkan menjadi bagian dari Areal Preservasi sesuai nomenklatur baru dalam UU Konservasi, tentu dengan dukungan dan kerjasama Perhutani.


Kang Dody menyampaikan nilai kearifan lokal Sunda yang mengibaratkan gunung sebagai "susu ibu" — simbol pentingnya menjaga gunung demi kelangsungan hidup manusia. Kang Dody juga mengajak generasi muda untuk bangkit dan jangan lalai karena banyak yang hilang didepan mata kita, jangan sampai menyesal suatu hari nanti, mensinergikan derap langkahnya untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk masa depan

Administratur Perhutani KPH Bogor, perwakilan BPDAS Citarum-Ciliwung, dan pemerintah Kelurahan Megamendung menyampaikan apresiasi terhadap gerakan konservasi yang telah dirintis dan membuka peluang pengembangan kerjasama lebih lanjut, khususnya untuk pelestarian kawasan hulu yang menjadi tumpuan bagi keseimbangan ekosistem wilayah Bogor dan sekitarnya.

Peringatan Hari Bumi 2025 di Megamendung ini menjadi wujud nyata bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci dalam menjaga keberlanjutan lingkungan untuk generasi yang akan datang.
(Rilis)

 
Sentuh gambar untuk melihat lebih jelas